Sunday, February 13, 2011

Pakai Kerudung Tapi Tetap Seksi

Oleh : Ummu Rasyadan
Publikasi : 29/6/2005


Salah satu ciri fisik seorang wanita salehah adalah suka berpakaian sopan, dan selalu mengenakan busana yang tertib menutupi aurat. Banyak kaum hawa yang tampak berpakaian tapi pada hakikatnya mereka sama saja dengan "telanjang"- busana mereka sengaja dibuat hanya menutupi bagian-bagian tertentu saja. Kendati kain busana dirancang menutupi sekujur tubuh, namun lekuk molek dan bentuk tubuhnya masih tetap tampak jelas dimata yang memandang. "Buat apa pake kerudung, kalau masih tetap ingin tampil seksi di depan umum."timpal suami penulis yang kebetulan bekerja di perusahaan milik Aa Gym, dan mengaku jarang "menikmati" pemandangan yang penulis utarakan.

Kesimpulan yang penulis kemukakan pada paragraf awal, penulis ambil setelah membuka terjemahan Al Qurلn Nur Karim hadiah Kerajaan Saudi, halaman 678, surat Al Ahzab ayat 59. Bunyi firman-Nya adalah : "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Kesimpulan itu diperkuat pula oleh pelajaran yang penulis dapatkan dari pengajian rutin di Masjid Al Falah. Ustadzah Dyah Kusumastuti pemateri saat itu menjelaskan, bahwa jilbab atau kerudung adalah model busana yang dirancang untuk melindungi seluruh tubuh, terutama tubuh bagian atas, kecuali muka dan telapak tangan. KH Ujang Muhammad, pembimbing jamaah ketika penulis menunaikan ibadah umrahpun memberikan contoh yang lebih tegas dan konkret kepada penulis : "Pakaian yang menutupi aurat itu, jelasnya seperti yang ibu-ibu kenakan pada saat melaksanakan thawaf dan sa'i, waktu menunaikan umrah seperti sekarang ini."

Dari pelajaran-pelajaran itu, akhirnya saya bisa memetik hikmah, bahwasanya Allah mmerintahkan wanita berpakaian rapat agar wanita yang beriman bisa dibedakan dari wanita yang tak beriman. Dengan berpakaian seperti yang telah disyariلtkan itu, wanita berimanpun tercegah dari upaya-upaya kaum munafik yang sering berniat atau berlaku keonaran terhadap kaum muslimah.

***

Suami penulis pernah mewanti-wanti, bahwasanya salah satu fitrah wanita adalah rasa malu. Fitrah yang terejawantahkan kedalam sifat malu (bukan dalam pengertian rendah diri) itu tersirat dari caranya berpakaian. Wanita yang berjilbab rapat, seperti apa yang dijelaskan Ustadzah Masjid Al Falah maupun KH Ujang Muhammad, menandakan keistiqamahannya dalam menjaga fitrah atau rasa malunya agar tetap utuh. Sedang wanita yang masih fifty-fifty, atau sama sekali enggan berpakaian sesuai syar'i, maka ia berarti 'setengah' atau seluruhnya ingkar dari fitrahnya sebagai wanita.

"Terus, apa yang harus Ummi lakukan agar fitrah Ummi sebagai wanita tetap utuh, Bi ?"

Suami penulis tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia bangkit menuju rak buku, lantas kembali menyodorkan kitab terjemahan Al Qurلn cetakan "pemkot" Madinah Al Munawwarah. Setelah membaca taْdz dan basmalah, suami membacakan salah satu ayat dalam surat An Nuur. Usai melantunkan satu ayat dari surat An Nuur itu, diapun membacakan tafsir terjemahannya. Bunyinya : "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada: suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, saudara-saudara lelaki mereka, putera-putera saudara lelaki mereka, putera-putera saudara perempuan mereka, wanita-wanita Islam, hamba-hamba yang mereka miliki, pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita." (Q.S. 24 : 31)

"Itulah sebabnya Ummi, kenapa Abi dulu mensyaratkan agar Ummi berjilbab dulu sebelum menikah dengan Abi."ucap suami sambil meletakkan tafsir qurلn ke atas rak buku.

"Alah, tapi Abi suka juga 'kan melihat wanita berkerudung tapi tampak seksi?" timpal penulis dengan maksud menggoda.

"Lho, bagaimana sih Ummi ini ? Karena Abi, kawan-kawan Abi, dan semua lelaki pada lazimnya mudah sekali tergoda, maka tugas Ummi dan kawan-kawan Ummi-lah untuk mendakwahi sesama kaumnya. Jangan sampai Abi, kaumnya Abi, atau ada lelaki yang terjerumus dan tergoda, gara-gara penampilan seronok seorang wanita yang notabene adalah muslimah. Itu 'kan sama saja mendzhalimi lelaki, dan mendzhalimi Ummi juga, kalau Abi sampai tergoda." balas suami penulis dengan nada menggoda pula.

Saturday, December 18, 2010

Ilustrasi Manajemen Waktu


Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Source: Bunga Rampai 11

Wednesday, December 1, 2010

Fastfood

Jika punya waktu sedikit luang dan kebetulan Anda sedang berjalan-jalan di sekitar Sarinah Jl. Thamrin, Jakarta, berhentilah sejenak untuk memperhatikan sebuah restoran cepat saji (Fastfood) Mc Donald, niscaya Anda akan menemukan pemandangan yang lumayan kontras. Bukan pemandangan anak-anak jalanan yang menempelkan mulut dengan mata celong-nya di kaca tengah memperhatikan orang-orang didalam yang sedang makan ayam renyah dan seketika berhamburan masuk sesaat setelah yang didalam selesai makan untuk berebut sisa ayam dan kentang yang tidak dihabiskan, dan bukan pula wajah-wajah murung menahan lapar tatkala sisa ayam dan kentang yang diharap ternyata tak didapat. Karena kalau soal itu, semestinya tak lagi menjadi wacana, tetapi langsung pada aksi yakni dengan berbagi kenikmatan kepada mereka.

Yang ingin saya ajak untuk Anda perhatikan adalah pemandangan kontras dalam cara menyantap makanan cepat saji tersebut antara orang kita (lokal) dan para bule. Untuk diketahui, restoran cepat saji di areal tersebut memang menjadi salah satu tempat favorit para bule yang kebetulan lokasinya tidak jauh dengan Jl. Jaksa, tempat tinggal sementara para bule tersebut. Apa bedanya? Untuk mengetahui bedanya, mari kita pelajari dulu asal muasal keberadaan fastfood (apapun merk- nya).

Di AS, keberadaan fastfood sangat berkaitan dengan tingkat kesibukan manusia-manusia profesional yang sangat menghargai waktu mereka, sehingga sering kita dengar istilah “time is money” secara akrab. Tuntutan profesionalisme dan tingginya kinerja manusia-manusia disana menyebabkan mereka tak lagi menganggap makan sebagai sesuatu yang penting. Oleh karenanya, tak heran jika kemudian berkembang produksi pil pengganti makan, atau sereal yang mengandung vitamin sesuai dengan ukuran vitamin yang diperlukan oleh tubuh.

Singkatnya, mereka tidak ingin membuang banyak waktu untuk sekedar menyiapkan makan, juga menyantapnya. Seiring dengan kondisi tersebut, bermunculanlah ide fastfood (apapun jenis dan merk-nya) yang memungkinkan para profesional tersebut tidak kehilangan waktu dan energi karena sudah ada yang menyiapkannya, juga tidak kehabisan waktu menyantap karena sifat dan jenis makanannya yang simpel (misalnya, McD, satu potong ayam dan segelas soft drink).

Nah, Anda bisa lihat karena namanya fastfood (makanan cepat saji) yang khusus disediakan bagi mereka yang sangat menghargai waktu, maka mereka pun tidak pernah berlama-lama duduk di restoran tersebut, dan bahkan tidak sedikit yang membawanya ke mobil atau meja kerja mereka. Namun coba Anda perhatikan, orang-orang kita (lokal) yang juga sangat menyukai makanan tersebut, justru mereka menjadikan restoran fastfood tersebut untuk tempat ngobrol dan kongkow-kongkow, bahkan kencan!

Allah sering mengingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan dan menghargai waktu. Sedemikian pentingnya waktu bagi manusia, sampai Allah pun bersumpah demi waktu. Beberapa awal Surat dalam Al Qur’an menyatakan pentingnya waktu, antara lain Demi Waktu (Ashar), Demi Waktu Subuh, Demi Waktu Dhuha, Demi Malam dan lain sebagainya. Kalau urusan makan pun orang-orang diluar Islam sedemikian menghargai waktu mereka, apatah lagi untuk hal-hal lain yang jauh lebih penting dan bermanfaat.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa mereka lebih baik dan unggul dalam segala hal, namun untuk hal satu ini, mungkin semestinya kita belajar bagaimana menghargai dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang sia-sia. Setiap manusia diberikan jatah waktu 24 jam sehari, tidak ada yang dilebihkan atau dikurangi. Tapi kenapa ada manusia yang sukses dan tidak sedikit pula yang gagal, bisa jadi salah satu faktor keberhasilan seseorang meraih sukses (sebaliknya, juga menjadi salah satu faktor kegagalan) adalah bagaimana cara ia memanfaatkan waktunya dengan baik, efektif dan maksimal.

Dari contoh makan diatas misalnya, terlihat jelas perbedaan cara pandang sebagian orang kita dan (juga sebagian) orang-orang profesional. Mereka menjadikan makan (dengan menggunakan waktu secara efektif) sebagai bagian dari faktor pendukung kesuksesan, sementara sebagian kita menempatkan ‘makan’ sebagai bagian dari nikmat hidup. Karena perbedaan cara pandang tersebut, itulah yang Anda saksikan di beberapa restoran fastfood, orang kita yang datang lebih awal dibanding orang-orang profesional itu, namun mereka yang jauh lebih awal keluar dari tempat tersebut.

Dari kesalahan cara pandang terhadap makanan fastfood tadi, menimbulkan satu kesalahan pandangan terhadap visi kesuksesan. Kok bisa? Orang-orang profesional yang telah merengkuh kesuksesan (sekali lagi), karena mereka sangat memperhitungkan setiap detik waktu yang mereka punyai, itulah yang kemudian menjadikan ‘makan’ dimata mereka sebagai sesuatu yang harus sesegera mungkin diselesaikan.

Satu hal yang menjadi patokan adalah, kesuksesan harus melalui jalan yang panjang, dan salah satu faktor pendukungnya adalah dengan memanfaatkan setiap detik waktu agar tidak terbuang percuma. Sedetik saja waktu terbuang tanpa makna, mereka akan merasa semakin panjang jalan yang harus ditempuh menuju kesuksesannya, semakin mahal harga yang harus ditebusnya guna meraih sukses yang dicitakannya.

Allah dalam Al Qur’an Surat Al Insan ayat 23-25 mengajarkan kepada orang- orang beriman tentang proses atau tahap-tahapan meraih sukses. Allah menggambarkan tentang turunnya Al Qur’an yang berangsur-angsur. Seperti halnya Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (Al Hadid:4), seharusnya kita belajar bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diraih secara instan, serba cepat tanpa melalui tahap-tahap dan perjuangan menujunya.

Maka dalam ayat ke-24 (Al Insan), Dia meminta manusia untuk bersabar (dalam menjalani) ketetapan Tuhan tersebut. Dan agar manusia senantiasa bahwa segala sesuatu itu atas kehendak-Nya, maka Dia memerintahkan kita untuk menyebut nama-Nya setiap saat.

Kesuksesan, satu cita yang hanya bisa diraih dengan perjuangan, kesungguhan dan melewati berbagai tahap sebelum merengkuhnya. Tidak ada orang bermimpi kemudian bangun tidur diatas tumpukan emas berlimpah, atau juga orang yang hari ini masih luntang-lantung tanpa pekerjaan yang jelas, kemudian esok harinya sudah duduk di meja kerja seorang Direktur dan memimpin sebuah perusahaan besar. Ah, mungkin kita terlalu banyak makan mie instant sehingga pola pikir yang terbentuk pada diri kita adalah, segala sesuatu bisa terjadi dalam waktu singkat. Atau mungkin kita terlalu sering nongkrong di restoran fastfood? Wallaahu ‘a’lam bishshowaab. (Bayu Gautama)


eramuslim.com

*didapatkan dari Bunga Rampai 6