Tuesday, September 21, 2010

Mencintai Diri Sendiri

"Mencintai diri sendiri,
Memahami bahasa hati, dengan menegakkan kepala,
berarti menjulang mencapai ujung...
Mencintai diri sendiri,
Mencerna seribu makna, dengan tatapan setajam elang,
berarti maju, bergerak dan mengebiri kemalasan...
Mencintai diri sendiri,
dan berbangga dengan perjuangan yang telah dilakukan,
berarti berucap: Alhamdulillah"
(Husnul, kado cinta untuk Azimah, 29 Agustus 2003)

***

eramuslim - Menjadi baik dalam segalanya adalah dambaan tiap orang. Menjadi cantik, lembut, ramah, baik hati, bijaksana, lapang dada, dermawan, menyenangkan, sabar, tegar, cerdas, pintar, menarik hati, enak dipandang, enak dijadikan teman curhat dan semua kebaikan lainnya

Berbahagialah mereka yang mewarisi gen-gen kebaikan dari orang tuanya. Berbahagialah mereka yang dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Berbahagialah mereka yang mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tua dan sekolahnya. Hingga ia tumbuh dewasa dalam kebaikan, tanpa pergolakan jiwa yang berarti, tak perlu lagi menghadapi dilema dan menyesali perjalanan hidupnya sendiri.

Namun bagaimana dengan mereka yang menjalani proses hidup sebaliknya? Rasanya begitu berat. Begitu pedih. Begitu nyeri. Begitu menyesakkan. Saat kebencian itu hadir. Saat ketidak sukaan melingkupi. Saat ketidak mengertian memenuhi. Saat ketidak berdayaan menghantui. Terhadap diri sendiri. Mengapa aku buruk rupa? Mengapa keluargaku berantakan? Mengapa aku tidak cerdas? Mengapa aku selalu gagal? Mengapa aku tidak disukai teman-temanku? Mengapa perjalanan hidupku seperti ini? Mengapa aku selalu naif? Mengapa aku selalu salah? Mengapa? Dan banyak mengapa lainnya...

Ketika semua perasaan itu hadir dan melibas diri, hidup menjadi sangat sulit. Dunia menjadi teramat gelap. Hingga segala tentang diri kita pun terasa bernuansa pekat. Kita buruk dan hanya orang lain yang baik. Dan kita pun ingin terbang, pergi dan menjadi orang lain atau malah terpuruk saja di dalam bumi.

Pernahkah kemudian kita terpikir: Betapa kasihan 'makhluk kecil' di dalam sana. Sesosok 'diri' yang disadari atau tidak, dibenci oleh dirinya sendiri. Mungkin jasad sang diri memang tidak cakep. Mungkin pribadi sang diri memang tidaklah menyenangkan. Mungkin perjalanan hidup sang diri cukup menyebalkan. Namun sang diri tetap butuh cinta. Agar dengannya dia tumbuh dan berkembang ke arah kebaikan. Berapa banyak cerita tentang seseorang yang berubah menjadi lebih baik karena merasa dicintai? Berapa banyak orang yang termotivasi karena dicintai? Betapa banyak orang yang ingin diterima apa adanya? Dicintai setulusnya? Dan cinta itu, at very first, hanya pemilik 'diri' lah yang harus memberikannya. Jika bukan kau, siapa lagi? Engkau yang paling mengerti dirimu sendiri. Maka engkau lah yang paling layak, paling berhak dan paling berwenang mencintai dirimu sendiri.

Cintailah dirimu sendiri. Beri penghargaan. Beri pujian untuk keistimewaan-keistimewaan dalam dirimu sendiri Terimalah ia apa adanya. Pahami kelemahan-kelemahannya. Lihat kembali perjalanan hidupmu ke belakang. Mungkin kau akan melihat banyak kesalahan. Mungkin kau akan menemukan banyak kenaifan. Mungkin kau akan menjumpai banyak hal memalukan. Mungkin kau akan menemukan banyak kegetiran. Ketidaksukaan. Seperti halanya kau ingin orang lain menerima dirimu apa adanya, maka kau harus memulainya dari dirimu sendiri. Terimalah dirimu apa adanya. Cintai ia. Sungguh cinta itu akan menjadi kekuatan besar untuk membangun diri.

Cinta itu, akan mengarahkan jiwamu terus menerus bergejolak. Cinta itu akan mewadahi hatimu terus menerus bergolak. Cinta itu akan mendamaikan perasaanmu yang tak pernah berhenti dan mati. Cinta itu akan membuatmu terus berusaha memperbaiki diri. Cinta itu akan membuatmu bangga dengan perjuangan yang telah kau lakukan. Cinta itu akan menjagamu dari membandingkan diri dengan orang lain serta lebih memilih membandingkan diri sendiri yang sekarang dengan beberapa waktu serbelumnya.

Maka kemudian dirimu akan sanggup berkata, "Mungkin aku yang sekarang masih belum sebaik orang pada umumnya. Mungkin aku yang sekarang belum sebaik manusia muslim yang sesungguhnya. Tapi akau tahu aku yang sekarang adalah aku yang lebih baik dari aku sebelumnya. Dan aku bangga karena untuk menjadi aku yang sekarang kulewati dengan penuh air mata. Aku bangga dengan diriku yang sekarang karena akau telah menempuh prosesnya."

Jika tak ada yang mencintaimu kini, bisa jadi itu karena engkau bahkan tak mencintai dirimu sendiri. Karena itu, cintailah dirimu sendiri. Karena dari sana kau akan bisa mencintai dan dicintai orang lain.

***

Azimah Rahayu
# Paseban, 180105 Untuk diri sendiri dan mereka yang pernah berkesah tentang dirinya yang tak ia cintai
azi_75 at yahoo dot com

*Bunga Rampai IX

Monday, August 30, 2010

Kemuliaan Lailatul Qadr

BULAN Ramadan merupakan satu bulan yang penuh keberkatan di mana Allah SWT meluaskan rahmat-Nya agar menaungi seluruh hamba-hamba- Nya yang tekun beribadat dan taat kepada-Nya dengan memberi ganjaran pahala yang berlipat kali ganda.

Pada bulan ini juga terdapat satu malam yang lebih mulia berbanding 1,000 bulan, iaitu lailatul qadar. Padanyalah diturunkan al-Quran yang dijadikan panduan bagi seluruh umat Islam.

Firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) itu pada malam al-Qadar. Apakah cara yang membolehkan engkau mengetahui kebesaran lailatulqadar itu? Lailatul qadar ialah malam yang paling baik berbanding 1,000 bulan. Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan izin Tuhan mereka membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikutnya). Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar. (al-Qadr: 1-5).

Oleh itu, sesiapa yang beribadat pada bulan Ramadan dan menepati malam lailatul qadar, ganjaran pahala amalannya itu melebihi ibadah yang dilakukannya selama 1,000 bulan.

Apakah itu lailatul qadar?

Tentang makna al-Qadr, sebahagian ulama berpendapat ia bermaksud pengagungan. Dari sini dapat kita fahami bahawa lailatul qadar bermaksud malam yang memiliki keagungan kerana diturunkan al-Quran pada malam tersebut, turunnya para malaikat, melimpahnya rahmat dan keampunan Allah serta Allah akan menganugerahkan keagungan (kemuliaan) kepada mereka yang beribadat pada malam itu.

Al-Qadr juga bermaksud penetapan. Oleh itu, lailatul qadar juga bermaksud malam penetapan segala urusan yang bakal berlaku pada tahun berikutnya. Ini jelas bertentangan dengan tanggapan kebanyakan umat Islam di Malaysia yang beranggapan bahawa malam Nisfu Syaaban merupakan malam di mana Allah menetapkan apa yang ditakdirkan untuk kita pada tahun berikutnya.

Mereka berhujah dengan firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran itu pada malam yang berkat; (Kami berbuat demikian) kerana sesungguhnya Kami sentiasa memberi peringatan dan amaran (agar hamba-hamba Kami tidak ditimpa azab). (Kami menurunkan al-Quran pada malam itu kerana) pada malam yang berkat itu dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta ketetapan yang bakal berlaku. (al-Dukhan: 3-4.

Menurut tafsiran 'Ikrimah, malam yang diberkati dan ditetapkan segala urusan manusia itu adalah malam Nisfu Syaaban. Namun, pendapat ini tertolak kerana nas-nas yang sahih menjelaskan bahawa al-Quran diturunkan pada bulan Ramadan. Malam yang diberkati itu adalah malam lailatul qadar sebagaimana yang terdapat di dalam surah al-Qadr yang penulis paparkan sebelum ini.

Al-Hafiz Ibn Kathir r.h ketika mentafsirkan surah al-Dukhan, ayat 3-4, katanya: "Allah berfirman menjelaskan tentang al-Quran al-Adzim bahawa al-Quran diturunkan pada malam yang penuh berkat, iaitu malam al-Qadr sebagaimana firman Allah di dalam surah al-Qadr: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada malam al-Qadr. (al-Qadr: 1).

Hal itu terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana firman Allah: (Masa yang diwajibkan kamu berpuasa ialah) bulan Ramadan yang diturunkan al-Quran padanya...(al-Baqarah: 185).

Pengajaran di sini ialah sesiapa yang mengatakan bahawa malam yang dimaksudkan (dalam surah al-Dukhaan itu) adalah malam Nisfu Syaaban seperti yang diriwayatkan daripada 'Ikrimah, bererti dia telah menjauhkan diri dari pengertian asalnya. Ini kerana, nas al-Quran menegaskan bahawa yang dimaksudkan dengan malam yang penuh berkat itu (lailatul qadar) adalah pada bulan Ramadan. (Rujuk Kitab Tafsir al-Quran al-'Adzim karya al-Hafiz Ibn Kathir, jil. 4, ms. 137).

Syeikh Muhammad Abdul Salam r.h berkata: "Keyakinan bahawa malam Nisfu Syaaban adalah malam al-Qadr adalah keyakinan yang salah". Demikian kesepakatan para ulama hadis sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Kathir di dalam tafsirnya. Ketika menjelaskan Sunan al-Tirmizi, Ibn al-Arabi mengatakan bahawa firman Allah di dalam surah al-Dukhan, ayat 3: Sesungguhnya kami menurunkan al-Quran bermaksud diturunkan pada malam Nisfu Syaaban adalah tidak benar kerana Allah tidak pernah menurunkan al-Quran pada bulan Syaaban.

Ayat itu harus difahami secara lengkapnya sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran pada malam al-Qadr di mana lailatul qadar itu hanya wujud pada bulan Ramadan. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah di dalam surah al-Baqarah, ayat 185 di atas tadi.

Keyakinan al-Qadr berlaku pada malam Nisfu Syaaban bertentangan dengan Kitabullah dan jauh terpesong dari isi kandungannya.

Perlu kami ingatkan bahawa Allah sendiri menegaskan tentang malam itu di dalam surah al-Dukhan, ayat 3: (Kami menurunkan al-Quran pada malam itu kerana) pada malam yang berkat itu dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta ketetapan bermaksud pada malam al-Qadr dijelaskan segala hal kepada malaikat bukannya pada malam Nisfu Syaaban. (Rujuk Kitab al-Sunan wa al-Mubtada'at karya Muhammad Abdul Salam Khadr al-Syaqiry, ms. 156).

Bilakah berlakunya lalitaul qadar?

Sabda Rasulullah SAW: Carilah lailatul qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 malam terakhir di bulan Ramadan. (riwayat al-Bukhari di dalam sahihnya, no: 2017.

Dalam sabdanya yang lain baginda SAW menyebut: Carilah (lailatulqadar) pada 10 malam terakhir. Jika seseorang kamu lemah atau tidak mampu, janganlah Dia kalah (putus asa) mencarinya pada baki tujuh malam terakhir. (riwayat Muslim di dalam Sahihnya, no: 1165).

Kombinasi hadis di atas dapatlah kita simpulkan bahawa kita sepatutnya menggandakan ibadah pada malam yang ganjil bermula 10 malam terakhir pada bulan Ramadan terutamanya pada malam ke 23, 25, 27 dan 29.

source

Saturday, August 21, 2010

Konsultasi

Yendry - Pamulang

Assalammualaikum Wr Wb Bapak Ustadz yang terhormat, beberapa hal yang ingin saya tanyakan (yang selama ini mengganjal dalam benak saya) adalah sebagai berikut :

1. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, betulkah ISLAM terbagi menjadi 73 Kelompok/Golongan dan hanya 1 Golongan yang diselamatkan ?

2. Supaya dalam menjalankan ibadah sempurna, apakah kita diwajibkan (harus) memiliki IMAM dimana kita juga nantinya akan di BAIT ? Bagaimana dengan salah satu hadis yang mengatakan (kira-kira bunyinya sebagai berikut : ) Kita hidup harus seperti DOMBA yang hidup selalu bersama (bergerombol) sehingga nantinya tidak di makan oleh SERIGALA. (mohon maaf jika salah). Lalu jika memang harus BERIMAM, bagaimana cara kita memilih salah satu IMAM yang terbaik untuk kita jalankan ?

3. Apakah betul sholat Duha tidak boleh dilakukan tiap hari ?

4. Apakah jika hendak memulai sholat (terutama dirumah) harus diawali dengan sholat wudhu ? apakah itu baik atau Bid'ah ?

Demikianlah, mohon penjelasan Bapak Ustadz, terimakakasih atas jawaban Bapak dan mohon maaf jika ada kekhilafan. Mohon jawaban atas pertanyaan dikirimkan juga ke email saya, terimakasih. Wassalammualaikum Wr Wb.

yendrybosco@yahoo.com


Jawaban:

ssalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Masalah 73 Golongan
Ungkapan bahwa umat Rasulullah SAW akan terbagi menjadi 73 kelompok memang berasal dari sebuah hadits. Hadits itu memang benar adanya dan shahih. Namun Rasulullah SAW tidak pernah menyebutkan identitas dan nama-nama ke-72 golongan yang beliau sebutkan itu. Beliau hanya menyebutkan kriteria atau sifat-sifat 1 golongan yang selamat yaitu mereka yang berpegang teguh pada sunnahnya (manhajnya) dan sunnah (manhaj) para pengikutnya.

Sehingga memang masih tersisa pertanyaan buat kita, siapakah atau kelompok manakah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW itu ?

Namun sebagai pengantar latar belakang sejarah, usia umat Islam ini sudah mencapai 1400-an tahun dan hingga hari ini Islam dipeluk oleh tidak kurang 1,5 Milyar manusia. Bila kita telusuri sejarah, maka jumlah kelompok, organisasi, jamaah, paham, mazhab, aliran dan apapun jenisnya sungguh sangat banyak, tidak terbatas pada angka 73 saja. Lagi pula tidak ada penjelasan lebih lanjut apakah yang dimaksud oleh beliau sebagai ‘firqah’ yang jumlahnya 73 itu bentuknya jamaah, organisasi, paham, aliran, kelompok, tanzim, atau mazhab ?

Sedangkan 1 firqah yang oleh beliau dikatakan satu-satunya yang selamat yaitu ahlus-sunnah wal jamaah’ dalam konteks pemahaman yang disepakati adalah sebuah pemahaman aqidah/tauhid. Bukan mazhab fiqih, nama organisasi, kelompok, jamaah atau lainnya.

Namun bila kita telusuri paham aqidah di luar ahlus-sunnah wal jamaah, kita mendapati bahwa paham-paham itu jumlahnya jauh memebihi angka 72 buah, apalagi bila dihitung sejak zaman nabi hingga hari ini dimana umat Islam telah tersebar luas dari Maroko sampai Maroke. Maka jumlahnya mencapai jutaan bahkan puluhan juta paham/aliran. Karena itu dari pada mengurusi atau mencari-cari siapakah yang dimaksud 72 firqah yang sesat itu, lebih baik kita berkonsentrasi agar kita bisa dimasukkan dalam kriteria 1 firqah yang selamat yaitu Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Caranya dengan mempelajari sunnah beliau SAW dari segala sisi dan aspek kehidupan seperti aqidah, syariah, akhlaq, sosial, politik, hukum, ekonomi dan lain-lainnya. Juga tidak lupa kita mengikuti pula apa yang telah disunnahkan oleh para khalifah beliau dan para ulama yang mewarisi kenabian. Dan selama Rasulullah SAw tidak memerintahkan kita untuk menelusuri ke-72 firqah itu, buat apa capek-capek dan bersibuk-sibuk mencari ‘kambing hitam’. Toh bila kita ‘menunjuk hidung’ kelompok tertentu, belum tentu mereka mau menerimannya. Kalaupun ketika kita mempelajari suatu aliran atau jamaah lalu kita mendapati ada hal-hal yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi, bukan berarti kita boleh terburu-buru memasukkannya ke dalam kelompok 72 firqah yang sesat. Yang lebih baik justru kita melakukan ta`lim, pelurusan, penyesuaian dengan cara yang terbaik, terbuka, rendah hati dan dengan niat yang bersih hanya mencari ridha Allah.

Masalah Imam
Kewajiban untuk menegakkan sistem imamah dalam Islam adalah kewajian kifayah, dimana semua umat Islam diwajibkan ikut untuk menegakkannya. Namun sebagaimana kita ketahui, bahwa imamah yang ideal yaknii dalam bentuk jamaatul muslimin memang sekarang ini belum ada. Apalagi khilafah islamiyah, semua itu masih memerlukan proses yang lumayan panjang dan jalan berliku.

Karena posisi umat Islam saat ini memang sangat terpuruk, terpecah menjadi sekian banyak kelompok dan kepentingan. Sehingga untuk bersatu di bawah satu imam masih belum lagi siap. Yang ada saat ini barulah jamaah-jamaah yang terserak di sana sini. Semua masih mencari bentuk dan jati diri. Kalaulah ada imam, maka imam masing-masing jamaah. Belum lagi imam bagi seluruh umat Islam.

Dengan demikian, kewajiban untuk membai’at satu imam saja yang menyatukan seluruh individu ummat masih belum terjadi. Karena belum ada kesepakatan dari seluruh lapisan muslimin untuk memilih satu imam yang menjadi pimpinan mereka.

Kalaulah saat ini ada imam jamaah dan mereka dibai’at oleh jamaah itu, maka bai’at yang mereka lakukan belum lagi sampai kepada imamah uzhma, tapi bai’at atas imam masing-masing. Umat Islam lainnya yang masih belum tergabung menjadi anggota salah satu jamaah itu belum bisa dikatakan bukan bagian dari umat Islam. Juga tidak bisa dikatakan berdosa. Karena memang belum ada imam milik seluruh umat Islam.

Hadits yang Anda sebutkan itu memang memerintahkan kita untuk segera menegakkan adanya imamah di tengah tubuh kaum muslimin. Dan bahwa umat kita ini diterkam srigala sebagaimana dalam hadits itu, memang telah, sedang dan akan terus terjadi. Bukankah umat Islam sekarang ini berada di bawah cakar kuku zionisme yang memporak porandakan persatuan dunia Islam ?

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.


sumber : SyariahOnline

Pusat Konsultasi Syariah ~ Bunga Rampai